Jago Lagu
  • Rabu, 01 Dec 2021
  •  

Terbaru, Merck Klaim Pil Covid Kurangi Risiko Kematian 50 Persen

Terbaru, Merck Klaim Pil Covid Kurangi Risiko Kematian 50 Persen

Terbaru, Merck Klaim Pil Covid Kurangi Risiko Kematian 50 Persen (Cnn)

VST.MY.ID - Perusahaan farmasi Merck mengklaim pil Covid-19 buatan mereka, yaitu molnupiravir mampu mengurangi risiko kematian dan rawat inap akibat infeksi virus Corona hingga 50 persen.

"Pada analisis sementara, molnupiravir mengurangi risiko rawat inap atau kematian sekitar 50 persen," kata Merck dalam sebuah rilis, dikutip CNN.

Molnupiravir merupakan obat antivirus oral yang dirancang untuk Covid-19. Obat ini disebut dapat menghentikan gejala parah setelah terpapar virus.

"Sebanyak 7,3 persen pasien yang menerima molnupiravir dirawat di rumah sakit hingga hari ke-29, mengikuti pengacakan (28/385), dibandingkan dengan 14,1 persen pasien yang diobati dengan plasebo (53.377). Hingga hari ke-29, tidak ada kematian yang dilaporkan pada pasien yang menerima molnupiravir, dibandingkan dengan delapan kematian pada pasien yang menerima plasebo (obat kosong)," kata Merck.

Dalam penelitian Merck, pasien mengonsumi empat pil molnupiravir dua kali sehari selama lima hari. Para pasien melaporkan efek samping sedikit lebih umum dibandingkan pada pasien yang menerima obat kosong. Perusahaan itu tidak merinci efek samping tersebut.


Dikutip dari AP, Merck juga menyampaikan perusahaannya akan segera mengajukan izin penggunaan pil ini ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat. Jika disetujui, obat ini dapat didistribusikan dengan cepat.


Aturan Baru: Covid Ringan, Boleh Divaksin Usai Sembuh 1 Bulan

Merck baru menjalani studi obat ini pada masyarakat yang belum divaksin. Meski demikian, FDA juga dapat mempertimbangkan apakah obat ini juga dapat dikonsumsi oleh masyarakat yang mengalami gejala Covid-19 walaupun sudah divaksin.


Sampai saat ini, pemerintah AS baru menyetujui pengobatan Covid-19 dalam bentuk suntikan dan infus. Pakar menilai adanya obat antivirus ini dapat meringankan tekanan rumah sakit dalam merawat pasien virus corona.


"Ini akan memungkinkan kami untuk merawat lebih banyak orang dengan lebih cepat dan, kami percaya, jauh lebih murah," kata ahli penyakit menular di Universitas Vanderbilt, William Schaffner.


Efek Samping Vaksin Booster Covid-19, Menurut Studi

Meski obat ini potensial, beberapa pakar menyampaikan vaksinasi juga harus terus dilakukan untuk mengendalikan penyebaran virus.

"Saya pikir sangat penting untuk mengingat bahwa vaksinasi, sesuai yang telah kita bicarakan hari ini, tetap menjadi alat terbaik kita melawan Covid-19," tutur Koordinator Tanggap Covid-19 Gedung Putih Jeff Zients.


Spesialis Virologi dari Universitas Johns Hopkins Andrew Pekosz memperkirakan vaksin dan obat antivirus pada akhirnya akan digunakan bersama untuk melindungi masyarakat dari virus corona.

"Ini tidak boleh dilihat sebagai pengganti vaksinasi - keduanya harus dilihat sebagai dua strategi yang dapat digunakan bersama untuk secara signifikan mengurangi penyakit parah," tutur Pekosz. (pwn/ptj)


(CNN)

Total dibaca: 139x | Berikan Komentar!


Susi Azizah
Penulis : Susi Azizah
No Internet No Life

Teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi idiot.

Komentar (1)
Susi Azizah
02 Oct 2021, 10:30 WIB

ikutan trending ya hehe

Tinggalkan Komentar
Ingatlah untuk selalu berkomentar dengan sopan sesuai pedoman situs ini
* Anda tidak memiliki akses untuk meninggalkan komentar *
TOPIK HANGAT

Jasa Pembuatan Aplikasi Website Custom!

Pesan Sekarang!

BERITA POPULER

Terbaru, Merck Klaim Pil Covid Kurangi Risiko Kematian 50 Persen